Ayah, Linux dan Aku

code_linux_story_lead_0

code_linux_story_lead_0

Oleh : Lee A Brian

7d2af692811ec6e7aa992b0876de14cb

CEO and Founder, Vit Ultra Nex. A Motion Picture & Publishing company. Official Account

Diterjemahkan oleh : reza@rumahilmu.or.id dari artikel aslinya di opensource.com

Saat aku masih seorang gadis kecil, aku ingat ayah menunjukkan padaku Linux di komputernya.

Saat itu, dia menunjukkan kepadaku apa yang kemudian dikenal sebagai Red Hat Linux — versi yang ditunjukkan saat itu adalah  Colgate 4.0 dari Best Buy. Saat itu, aku lebih familiar dengan Windows 95 dan tahu cara menggunakan komputer. Tapi Linux adalah sesuatu yang baru bagiku. Dia terlihat seperti sekumpulan kode dan terlalu teknis. Baru setelah beberapa tahun kemudian, pada Januari 2009, aku akhirnya berpindah ke Linux.

Inilah cerita Linuxku

Laptop tua yang aku gunakan terkena virus. Ketidakinginan menggunakan yang baru adalah karena profesorku di kampus bersikeras memintaku menuliskan makalah menggunakan Microsoft Word. Tapi karena terus menerus crash membuatku terlalu stress, maka akhirnya aku mengatakan “Iya” kepada ayahku dan “Iya” kepada Linux.

Ayahku menawarkan kepadaku laptop dengan dual boot sistem operasi, yakni Fedora 9 dan Windows. Dibandingkan Windows, aku lebih sering menggunakan Fedora 9 (dikenal juga dengan nama Sulphur). Aku menulis makalah kampus menggunakan Open Office bukannya Microsoft Word. Aku yakin profesorku tidak akan bisa melihat bedanya, lagipula kenapa dia harus peduli jika makalah yang aku tulis adalah makalah yang bagus ?

Sayangnya, yang terlihat penting di makalahku adalah mesti diformat dengan cara tertentu. Saya diminta untuk menggunakan huruf, gaya, dan ukuran tertentu, dengan margin yang diatur sesuai dengan standar Asosiasi Bahasa Modern (Modern Language Association). Itu adalah hal yang wajar dan bagus, tetapi bukankah sebaiknya kita berfokus pada penulisan ? Pertama, profesorku keberatan tentang ukurannya. Lalu tentang marginnya. Saat makalahku dikembalikan dengan banyak coretan koreksi tinta merah terkait format, aku katakan padanya bahwa aku menulisnya dengan Open Office. Gawat. Dia memintaku kembali menggunakan Microsoft Word. Dan tentu, aku tidak melakukannya.

Semenjak itu, aku jatuh cinta pada Linux. Ayahku mengajarkan bagaimana untuk memuat paket. Dan, suatu waktu aku menghapus folder penting dan sistemku crash. Tapi tidak ada yang hilang. Saat engkau terlibat dengan komputer, seringkali kesalahan kita lakukan, tapi itu tidaklah masalah. Itu justru sesuatu yang menyenangkan, karena saat aku menemukan program yang ingin aku install, aku cari paketnya dan mengujinya. Jika kemudian aku tidak menyukainya, aku uninstall paket itu dan melanjutkan ke yang lain. Aku suka bagaimana selalu ada program baru untuk dicoba, dan sebagian besar darinya bersifat free.

GIMP (Gnu Image Manipulation Program) telah dan masih menjadi program favoritku di keluarga Linux. Aku sedang belajar bagaimana menggunakan Open Office Impress untuk mendesain presentasi, kartu, sampul buku dan banyak lagi ! Adalah hal yang lucu pula, aku belajar GIMP sebelum aku belajar menggunakan Photoshop. Biasanya orang lain justru sebaliknya, karena mereka lebih terbiasa dengan program berbayar dibanding dengan yang free dan open source.

Hal-hal yang aku cintai di Linux

Aku tidak perlu khawatir komputerku terkena virus. Yang, sebagaimana mana anda baca sebelumnya, inilah alasan utama mengapa aku pindah ke Linux. Karena laptopku yang lama crash setiap saat.

Aku juga tidak perlu membayar untuk mengupgrade sistemku.

Pemrogramman Linux sungguh efisien dan dijalankan dalam perangkat yang lebih kecil tapi tetap secepat kilat.

Perlengkapan Linukku

Saat ini, aku menggunakan Fedora 20 (alias Heisenbug). Sangat mengesankan dan fluiditasnya benar-benar siap untuk layar sentuh. Transformasi dan evolusi Linux yang berhasil dicapai selama bertahun-tahun sungguh indah untuk diamati – dan sudah jauh berbeda dari apa yang pernah ayahku perlihatkan padaku saat aku masih anak-anak.

Ayahku kini mengajarkan teman-temannya dan orang lain tentang bagaimana cara menginstall dan menggunakan Linux. Pada saat pertemuan lunch and learn dimana ia bekerja, dia juga menjelaskan tentang perangkat lunak open source kepada rekan-rekan kerjanya.

Kita perlu lebih banyak pertemuan seperti ini, dimana kita dapat mengundang teman-teman dan orang lainnya untuk belajar Linux dan open source dalam suasana yang nyaman. Ayahku dan aku percaya bahwa jika lebih banyak bisnis yang paham tentang keuntungan Linux, mereka akan menerapkannya di kantor-kantor mereka dan merekrut lebih banyak pengguna Linux yang juga paham. Penghematan biaya karena tidak harus terus-menerus mengupgrade perangkat dan program bahkan bisa terus meningkat.

Berbagi cerita Linuxku adalah caraku untuk memberikan kembali kepada komunitas Open Source yang telah memberikan banyak hal kepadaku. Open Source telah memberikanku kebebasan untuk meluaskan masa depan dan mengkreasikan warisanku. [opensource.id]

%d bloggers like this: