Kenapa Kita Tidak Memperbanyak Kendaraan Listrik ?

13310792553_2e143b2328_z-640x342

13310792553_2e143b2328_z-640x342

Oleh : Jonathan M. Gitlin

jonathan-m-gitlin

Salah satu pekerjaan yang paling menantang di industri otomotif saat ini adalah menjelaskan kepada kustomer bahwa masa depan tidaklah akan sama seperti masa lalu. Kita dengan putus asa mencoba mengurangi emisi karbon kendaraan supaya planet ini tidak berubah menjadi kolong neraka, dan itu berarti salah satunya adalah berpindah ke mobil yang memiliki semacam tempat penyimpanan energi selain hidrokarbon. Disanalah orang-orang kemudian menjadi kebingungan dan pesan yang ingin disampaikan tadi menjadi menggantung, sebagaimana yang dilaporkan baru-baru ini oleh National Academic of Science

Selama beberapa dekade, mobil adalah barang sederhana dengan mesin pembakaran internal. Ia membakar bensin, atau kadang-kadang diesel dan gas alam cair. Terkadang pula memiliki turbocharger atau supercharger agar dapat menyimpan udara lebih banyak ke dalam ruang pembakaran.

Kini, kebutuhan untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan kualitas udara mulai terasa penting, dan itu berarti banyak opsi yang harus dibuat jika terkait dengan powertrain kendaraan.

Beragam opsi yang harus dibuat itu melahirkan kebingungan, demikian yang diungkap laporan National Academy of Sciences. Diperintahkan oleh Kongres Amerika Serikat, lembaga itu mulai mengkaji hambatan pengadopsian kendaraan plug-in electric (PEVs). Lembaga tersebut kemudian membagi PEV menjadi empat kelas :

  1. Long-range Battery EV (BEV) seperti pada Tesla Model S
  2. Short-range BEV seperti pada Nissan Leaf
  3. Range-extended Plug-in Hybrid EV (PHEV) seperti Chevrolet Volt (yang dapat dikendarai dengan energi listrik lebih lama)
  4. Minimal PHEV seperti plug-in BMW i8 (yang dapat menempuh jarak pendek hanya dengan tenaga batere saja)
Pam Fletcher

Pam Fletcher

Salah satu cara yang paling jitu untuk menyampaikan pesan diatas adalah memberikan orang-orang pengalaman EV, demikian menurut Pam Fletcher, teknisi kepala untuk EV di General Motors (GM). “Orang-orang yang telah memiliki dan memakai EV dapat memahami hal itu, karena mereka sudah melihat bagaimana kendaraan itu bekerja untuk mereka. Hal itu adalah bagian dari kurva belajar dan semakin hari semakin banyak orang yang paham”, demikian menurutnya. “Adalah hal yang sulit untuk menjelaskan kepada orang-orang keuntungan dari sesuatu yang mereka belum punya pengalaman apapun tentangnya”.

Desain kendaraan juga memiliki peran. Di tahun 2011, pendapat sepasang ekonom banyak dikutip sebagai headline di koran-koran. Berbunyi : “Konservasi Terang-terangan : Efek Prius dan WTP [Kesediaan Membayar] untuk Sebuah Niat Baik bagi Lingkungan Hidup” [Conspicuous Conservation: The Prius Effect and WTP [Willingness to Pay] for Environmental Bona Fides].” Steve dan Alisan Sexton berpendapat bahwa orang-orang lebih memilih Prius dari mobil-mobil konvensional versi hybrid dikarenakan desain mobil tersebut tampak menunjukkan komitmen mereka pada lingkungan di sekitarnya.

Hal tersebut kemudian dibantah oleh Fletcher. Dia mengatakan justru konsumer menyampaikan pendapat yang berlawanan kepada pihak General Motor.

“Saat kami meluncurkan generasi pertama Volt, kami mendapatkan feedback yang tidak kami harapkan,”demikian disampaikannya. “Para konsumen mengatakan hal-hal seperti “Kami menyukai mobil ini, dia tidak tampak sebagai proyek sains“.

Pesan ini kemudian kami bawa saat merancang generasi kedua Volt. Kami menjadikan salah satu prioritas kami adalah membuat mobil terlihat mainstream”. Hal ini juga terungkap baru-baru ini dalam poling yang dilakukan AutoTrader di website mereka, yang mendapati bahwa mayoritas yang membalas menginginkan EV atau hybrid terlihat tidak berbeda dengan mobil konvensional.

Tentu saja, consumer awareness tidak menjadi alasan utama yang menyebabkan hingga saat ini kita tidak memiliki lebih banyak PEV di jalan raya. Kurangnya fasilitas charging yang tersedia untuk konsumen secara luas membuat kendaraan tersebut jarang terlihat di parkiran pinggiran jalan kota saat malam hari bila dibandingkan dengan di daerah suburban yang memiliki tempat-tempat penyimpanan kendaraan dan garasi.

Britta Gross

Britta Gross

Kamipun kemudian bertanya kepada Britta Gross, pimpinan Advance Vehicle Commercialization Policy di GM, apakah masalah tempat pengisian ulang itu menjadi pendorong orang-orang perkotaan hidup tanpa EV ?

Dia menunjukkan bahwa hanya ada 3 hingga 4 persen pengisian ulang dilakukan di fasilitas publik (30 persen di tempat kerja, sementara mayoritas di perumahan, dilakukan sepanjang malam).

“Hampir menunjukkan segitiga yang terbalik, jika anda membandingkan apa yang menjadi fokus pendapat di media dengan apa yang sesungguhnya terjadi di kehidupan para pengendara EV. 50 persen pengendara tersebut memiliki akses ke outlet di rumah, sementara jumlah pengadopsian EV dekat dengan jumlah itu pun tidak”,demikian menurutnya. Meskipun infrastruktur pengisian ulang listrik DC yang cepat untuk publik adalah hal yang penting, tapi Gross juga berpendapat bahwa memperbanyak tempat pengisian ulang di kantor-kantor mungkin adalah pendekatan terbaik dan murah.

Sebagaimana yang mungkin anda harapkan, lembaga penelitian tersebut dapat mengambil perannya memberikan masukan kepada pemerintah, yang kemudian dapat mendorong pendanaan federal untuk meningkatkan kapasitas baterai, juga menjadikannya lebih aman dan memiliki durasi pakai lebih lama. Diperlukan pula lebih banyak penelitian untuk memahami peran infrastruktur pengisian ulang untuk publik dibandingkan tempat pengisian ulang di tempat kerja atau di rumah, mendorong insentif finansial bagi mereka yang membeli PEV (juga penelitian insentif model apa yang paling efektif), serta kerjasama membangun infrastruktur pengisian ulang, serta berbagai rekomendasi lainnya. [opensource.id]

 

%d bloggers like this: