Media Sosial : Ada batasnya !!

socialmediahasalimit

2e936d41

Oleh : Jesse Torres (@jstorres – jessetorres.com)

Penulis – Penyiar Radio CNBC –  Kontributor 

69c460b74f0d9cdeac08f85aff18648c

Terjemah Bebas atas Izin Penulis oleh OpenSource.Id

Seiring dengan penggunaan media sosial oleh pemilik bisnis yang terus meningkat dan juga semakin bertambahnya jenis platform, para enterpreneur mulai bertanya-tanya pada diri mereka sendiri, Berapa banyak platform media sosial yang seharusnya saya gunakan ?

Semuanya sama, more is better than less. Lebih sering konten di media sosial dilihat atau didengar, semakin besar kemungkinan mempengaruhi seseorang untuk menjadi pelanggan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Market Force, sebuah perusahaan intelijen bisnis, pada tahun 2012, 78 persen keputusan pembelian oleh konsumen dipengaruhi oleh posting vendor.

Para ahli telah memberikan nasehat bahwa menjaga kehadiran di media sosial tidak hanya penting, tapi juga hendaknya melibatkan banyak platform.

“Kesalahan terbesar yang dilakukan oleh kebanyakan bisnis adalah mereka hanya menggunakan satu platform media sosial”, demikian dideklarasikan oleh blog ReadyBuzz beberapa tahun yang lalu. “Dalam banyak kasus, mereka hanya menggunakan Twitter atau Facebook saja. Kenyataannya adalah, satu saja tidaklah cukup”

Enterpreneur Pilar Vargas, kreator Princess P Jewelry, juga setuju dengan hal itu. “Lebih sering anda dikunjungi oleh orang lain, maka lebih baik” ujarnya dalam wawancara saya dengannya di acara Money Talk interview. Vargas, yang follower Instagramnya melewati 450,000, telah membangun bisnisnya secara ekslusif melalui media sosial dan mendorong para enterpreneur untuk “melakukan sebanyak mungkin yang mereka bisa”

Tentu para ahli juga mengatakan bahwa konten sebaiknya bukan hanya disalin dari satu platform ke platform lainnya, tetapi disesuaikan dengan nuansa pemikiran yang ada dalam masing-masing kanal tersebut.

“Setiap jaringan menawarkan titik point koneksi yang unik : Status, posting di wall, serta gambar di Facebook, membuatnya menjadi  semacam ‘buku tahunan jejaring sosial”, sementara itu format Twitter yang pendek, lebih cepat menginfokan hal-hal terbaru, membuatnya menjadi tempat untuk mengetahui “apa yang terjadi disini saat ini“. Sementara LinkedIn membuat jaringan para profesional sepenuhnya berada di level yang baru,” demikian catatan yang diberikan oleh ahli media sosial Cami Bird dalam postingnya di Constant Contact baru-baru ini. “Memahami perbedaan antara tiga jejaring itu membantu anda membagi konten yang akan menyentuh audien dengan tepat serta membantu anda menggapai potensi pemasaran terbaik di jejaring sosial”

Mengembangkan konten sesuai dengan nuansa pemikiran di masing-masing platform adalah hal yang masuk akal. Semakin cocok konten suatu media sosial dengan para pengguna, akan lebih banyak keterlibatan mereka dengan bisnis. Tetapi melakukan kustomisasi konten agar sesuai dengan beragam platform media sosial tentu membutuhkan waktu, sehingga merupakan tambahan pengeluaran.

Apakah konten itu berupa video, foto, atau bentuk media yang lain, goodwill yang tercipta oleh satu bisnis di media sosial bergantung pada nilai yang diterima oleh para pengguna dari konten tersebut. Jadi konten itu sendiri sesungguhnya adalah semacam mata uang yang diperdagangkan.

Jadi, bagi saya, bisnis dengan sumber daya terbatas lebih baik berfokus pada satu atau dua platform media sosial sehingga dapat menyampaikan konten yang bernilai tanpa harus membebani operasional mereka.

Memahami dilema yang dihadapi oleh para pemilik bisnis, pemilik Social Media Today, Mark Evans mengingatkan sebaiknya seseorang tidak menyebarkan konten yang terlalu miskin dan sedikit. “Keengganan saya menyarankan pendekatan banyak jaringan itu adalah sebagian besar karena terbatasnya sumber daya yang tersedia. Hal terakhir yang ingin saya lihat adalah adanya perusahaan yang melakukan penyebaran informasi besar-besaran lewat beragam akun Twitter, hanya untuk kemudian melihat bahwa upaya mereka itu gagal dikarenakan miskinnya konten atau sedikitnya aktivitas dan keterlibatan”.

Jadi, pemilik bisnis sendiri harus menentukan platform media sosial yang mana yang akan memberikan mereka pengembalian investasi yang palin besar, berdasarkan target pasar mereka.

Sebuah perusahaan yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan lembaga bisnis atau para profesional yang lain, dapat melihat LinkedIn sebagai tempat yang cocok untuk mereka. Sebuah perusahaan yang membuat barang, mungkin lebih cocok berada di Pinterest. Sementara suatu akademi sepak bola untuk anak muda akan lebih sesuai menggunakan YouTube.

Meskipun menjaga kehadiran di banyak platform media sosial adalah sesuatu yang sangat diinginkan, strategi yang juga harus ditimbang oleh bisnis adalah keterbatasan sumber daya. Perusahaan harus memastikan bahwa strategi media sosial mereka, terlepas dari jumlah platform, menyediakan keterlibatan yang bernilai untuk para target audien melalui konten yang kemudian dapat menjadi favorit dan memberikan nilai tambah bagi kehidupan para pengguna mereka.

Ya,more is better than less – tapi tidak pada pengeluaran bisnis dan mereknya. [opensource.id]

%d bloggers like this: