Perusahaan-perusahaan StartUp Yunani Terkena Dampak Krisis Cloud

3048196-poster-p-1-capital-controls-cut-greek-startups-off-from-cloud

3048196-poster-p-1-capital-controls-cut-greek-startups-off-from-cloud

Krisis Finansial yang terjadi di Yunani telah membuat beberapa perusahaan teknologi di negara tersebut harus berjuang untuk dapat membayar tagihan yang ada – tapi bukan karena mereka tidak memiliki uang di Bank.

Seperti kebanyakann bisnis di seluruh dunia, para startup di Yunani juga bergantung pada layanan cloud, mulai dari web hosting, email hingga pemrosesan kartu kredit. Umumnya layanan tersebut disediakan di Amerika Serikat atau di negara lain di luar Yunani, sementara ketatnya pengendalian modal minggu ini membatasi penduduk Yunani menghabiskan uangnya ke luar negeri.

Pembayaran kartu kredit dan transfer bank keluar Yunani diblokir, membuat beberapa bisnis di Yunani harus memohon kepada penyedia layanan cloud untuk memberikan jeda pembayaran dengan tetap mengaktifkan akun mereka hingga pengendalian itu dikendorkan.

“Jika mereka melakukan bisnis hanya di Yunani dan memperoleh pendapatan hanya dari dalam negeri, maka akan sangat sulit melewati kendala tersebut”, demikian tulis Nick Drandakis, CEO dan Founder Taxibeat, sebuah perusahaan startup Yunani yang menyediakan aplikasi layanan taksi.

Drandakis mengatakan perusahaan mereka sesungguhnya dapat melakukan pembayaran dari akun Bank di Inggris, tetapi opsi itu tidak tersedia untuk perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki operasi di luar Yunani.

“Rekan-rekan enterpreneur lain di negeri ini juga menghadapi kendala besar dalam proses pembayaran biaya-biaya mereka”,demikian tulisnya.

Beberapa perusahaan bergantung pada pertolongan dari teman-teman di seberang, sementara yang lain melakukan jeda pembelian layanan digital yang baru hingga krisis terpecahkan.

“Pada tanggal 1 Juli yang lalu, kami berencana meluncurkan layanan cuaca kami. Kami telah bekerja secara diam-diam selama ini, tetapi kemudian kami dikenali dan diberitakan sehingga kami harus membatalkan rencana tersebut”, demikian tulis Manolis Nikiforakis, CEO dan pendiri agregator cuaca Weather ex Machina, dalam sebuah email. “Pengendalian modal membuat kami tidak dapat menambah node server yang baru untuk sistem backend dan itu membuat layanan kami menjadi hampir tidak dapat digunakan dan peluncurannya gagal”

Perusahaan tersebut kini menunggu hingga keadaan membaik sebelum merencanakan kembali peluncuran.

“Jelas ini bukanlah masalah utama bagi kami,” tulis Nikiforakis. “Saya yakni ada banyak startup lain diluar sana yang menghadapi kendala yang lebih berat”

Untuk membantu pintu digital bagi para enterpreneur ini tetap terbuka, co-founder Bugsense, John Vlachoyiannis dan Panos Papadopoulous telah memimpin suatu upaya sukarela untuk membantu para startup Yunani yang tidak memiliki jalan untuk membayar layanan online yang diperlukan.

“Kami dapat merasakan kesulitan mereka karena kami juga pernah mengalami situasi yang sama – tentu waktu itu tidak terlalu buruk, karena saat ini keadaan lebih tidak terkendali”,demikian ungkap Papadopoulos. Dia dan Vlachoyiannis pindah dari Athena ke San Fransisco saat perusahaan perangkat mobile analitik mereka diakuisisi oleh Splunk pada tahun 2013.

Papadopoulos membuat tweet program tersebut pada hari Senin lalu, dan dengan cepat menerima banyak uluran tangan, termasuk dari  Andreessen Horowitz dan co-founder Netscape Marc Andreessen.

“Apa yang kami lakukan adalah menampung permintaan dari orang-orang lalu memberikannya kepada pihak yang dapat membantu”,demikian disampaikan oleh Papadopoulos.

Pada Rabu siang, upaya itu telah menerima 35 permintaan bantuan dari berbagai perusahaan, 15 diantaranya meminta bantuan pendanaan, demikian yang disampaikan oleh Papadopoulos.

“Beberapa dari mereka kemudian kami lepaskan, karena mereka sudah mendapatkan bantuan dari keluarga atau sahabat mereka yang ada di Inggris atau Jerman”,tambahnya

Pembayaran yang dibutuhkan total hanya sekitar 1.000 US$, ungkapnya. Kebanyakan adalah layanan utama seperti web hosting untuk startup skala kecil. Saat ini struktur grup itu bersifat ad hoc informal, tetapi dapat saja berubah jika kebijakan kontrol kapital di Yunani ternyata berlangsung lebih lama.

“Banyak sekali orang yang sedang menghadapi hutang”,katanya.

Beberapa vendor digital juga menawarkan bantuan untuk kustomer yang terpengaruh oleh situasi Yunani.

“Kami membuat upaya terbaik kami untuk mengidentifikasi ribuan kustomer Yunani yang mungkin terdampak oleh larangan bank dan merubah backend tagihan kami dan memberikan keleluasaan setidaknya hingga tanggal 7 Juli”, demikian ditulis oleh Zach Bouzan-Kaloustian, direktur support Digital Ocean dalam suatu pernyataan via email.

Sejauh ini, pemerintah Yunani belum memberikan pernyataan jelas seberapa lama kontrol kapital itu akan berlangsung, terkait masih gagalnya negosiasi antara pemimpin negeri itu dengan lembaga kredit internasional. Peraturan tersebut melarang penduduk Yunani untuk mengambil uang kas lebih dari 60 Euro per hari dan membatasi pembayaran kartu kredit hanya untuk vendor-vendor dalam negeri.

Meski demikian, beberapa pembayaran kartu kredit dalam negeri juga terpengaruh oleh kontrol kapital tersebut, demikian ungkap Georgios Gatos, co-founder dan COO Incrediblue, sebuah platform online untuk pemesanan liburan yang beroperasi di Yunani dan Inggris.

Selain meminta provider cloud untuk memberikan jeda saat mereka memindahkan billing ke akun yang ada di Inggris, perusahaan itu juga harus meminta para pelanggan mereka di Yunani untuk membayar via transfer bank domestik. Perusahaan Incrediblue menangani pembelian kartu kredit melalui Braintree, pemroses pembayaran yang dimiliki oleh PayPal, dan seluruh transaksi ke luar negeri sudah diblokir oleh Sistem Perbankan Yunani, demikian disampaikan Gatos.

Yunani bukan negara pertama yang harus menerapkan pembatasan kapital pada saat krisis ekonomi. Hanya saja larangan itu terjadi saat transaksi penting domestik dan bisnis digital lokal masih bergantung pada pembayaran internasional.

Pada tahun 2008, Islandia pernah membuat kebijakan kontrol kapital, tapi pada saat itu startup belumlah bergantung pada layanan cloud, dan Islandia sendiri sebelum masa-masa krisis terjadi telah membangun jaringan data center mandiri, demikian ungkap Bala Kamallakharan, pendiri inisiatif Startup Iceland.

Kamallakharan berkata dia berharap kondisi ekonomi Yunani dapat membaik, dan memang dibutuhkan inovasi untuk keluar dari krisis tersebut, yang justru bisa saja menjadi keuntungan untuk sektor startup Yunani

“Setiap krisis memiliki peluang tersendiri untuk melakukan penataan ulang komunitas startup,”demikian tulisnya via email. “Ini pernah terjadi di Islandia, dan saya sangat yakin para startup di Yunani cukup tangguh dan kemudian melihat ini sebagai peluang yang unik untuk membangun perusahaan yang kokoh”. [opensource.id]

%d bloggers like this: