Respon OpenStreetMap di Nepal

Image credits : Photo by Kathmandu Living Labs. CC BY-4.0. Image credits : Photo by Kathmandu Living Labs. CC BY-4.0.
Image credits : Photo by Kathmandu Living Labs. CC BY-4.0.

Image credits : Photo by Kathmandu Living Labs. CC BY-4.0.

Oleh : Andrew Wiseman & Pierre Béland

Diterjemahkan oleh OpenSource.Id dari Artikel Aslinya di OpenSource.Com

wiseman2 pierre-beland

Saat gempa dahsyat terjadi di Nepal, respon diberikan dari seluruh penjuru dunia, mulai dari lembaga-lembaga bantuan, pemerintah, lembaga non profit hingga masyarakat biasa. Salah satu usaha yang menarik adalah yang dilakukan oleh komunitas pemetaan crowdsourced, khususnya OpenStreetMap.org, sebuah pemetaan web yang bebas dan terbuka serta dapat diedit oleh siapa saja (bayangkan semacam wikipedia untuk peta).

Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT), adalah sebuah LSM yang bekerja unuk melatih, mengkoordinir dan melakukan pengorganisasian pemetaan di OpenStreetMap untuk kepentingan kemanusiaan, respon bencana serta pengembangan ekonomi. Mereka telah melakukan mobilasi sukarelawan dari seluruh dunia untuk membantu pemetaan semenjak gempa Haiti pada tahun 2010.

Jaringan global HOT telah memainkan peranan penting dalam berbagai kejadian seperti Topan Haiyan dan krisis Ebola di Afrika. Data pemetaan yang dibuat seringkali berperan vital untuk merespon krisis yang terjadi. Data tersebut digunakan para perespon awal seperti Palang Merah, PBB, kelompok-kelompok lokal serta berbagai pihak lain untuk perencanaan, identifikasi kebutuhan, logistik, dan banyak lagi. Dapat dikatakan bahwa data OpenStreetMap (serta para sukarelewan pemetaan) memainkan peranan penting dalam berbagai respon yang diberikan.

Gempa Bumi Nepal

Nepal adalah contoh terkini dari aktivasi skala besar, meskipun para pimpinan pengaktifan HOT di Nepal melakukannya dengan pendekatan yang agak berbeda.

Bagi Pierre Béland, semuanya bermula pukul 5 pagi pada tanggal 25 April. Dia bangun pagi untuk berkorespondensi dengan para koleganya di Conakry, Guinea yang mengorganisir map-a-thon untuk krisis Ebola di Afrika Barat. Mereka membawa para sukarelawan untuk melengkapi peta dengan data jalan, sungai dan lainnya sehingga lembaga-lembaga bantuan dapat menggunakan informasi tersebut untuk perencanaan dan logistik. Dia mendengar tentang gempa bumi Nepal pertama kali dari koleganya di Prancis Jean-Guilhem Cailton.

Jean telah melakukan koordinasi via Skype dan diundang oleh Digital Humanitarian Network, PBB serta mitra internasional lainnya untuk brgabung. Respon meningkat cepat, dengan lebih banyak mitra, lembaga-lembaga donor, kelompok-kelompok pertolongan serta para sukarelawan yang menyatakan kesediaan mereka untuk membantu.

Nama Budhathoki, direktur eksekutif Kathmandu Living Labs (KLL), sebuah lembaga non profit yang bekerja untuk teknologi mobile dan pemetaan di wilayah Kathmandu, melakukan entri yang lebih intensif.

Proyek Open Cities

KLL telah bekerja selama beberapa tahun terakhir dalam sebuah proyek yang didukung oleh Bank Dunia bernama Proyek Open Cities sebagai persiapan untuk bencana-bencana seperti itu. Mereka melatih para pelajar lokal dan kelompok-kelompok komunitas untuk mengumpulkan informasi tentang rumah sakit, sekolah dan fasilitas-fasilitas kesehatan. Sementara HOT, Bank Dunia dan para sukarelawan terorganisir lainnya melakukan pemetaan outline gedung dan jaringan jalan secara remote, menggunakan citra satelit. Para mapper lapangan di Nepal kemudian mengisi hal-hal detail pada fitur tersebut, kesemuanya membuat terjadinya penghematan waktu dan menghasilkan data yang lebih baik. Ini berarti telah ada banyak data detail sebelum terjadinya bencana, yang merupakan bantuan yang sangat berarti bagi para perespon cepat.

Segera setelah gempa bumi terjadi, terputusnya listrik dan koneksi internet, tim KLL, dipimpin oleh Nama, yang juga merupakan anggota dari HOT, mulai bekerja. Mereka membuat ruang situasi untuk mengkoordinasikan respon pemetaan. Mereka juga membuat dan mendistribusikan peta kepada siapa saja yang akan menggunakannya. Juga mengorganisir dan menjaga suatu platform crowd sourcing menggunakan Ushahidi untuk melakukan tracking kerusakan, permintaan bantuan. Tak lupa pula membuat tempat di suatu klinik untuk melatih para mapper baru.

KLL juga berkoordinasi dengan pemerintah Nepal dan klaster-klaster kemanusiaan PBB (struktur koordinasi untuk respon internasional) dan melaporkan prioritas mereka kembali kepada HOT.

Pada waktu yang sama, komunitas Humanitarian OpenStreetMap dengan cepat mengorganisir pemetaan daerah-daerah yang paling terkena dampak bencana, memulai sejumlah “pekerjaan” dimana para sukarelawan dapat memilih lokasi dari grid dan memetakannya sehingga sekian orang dapat melakukan pengeditan secara simultan. Perangkat yang digunakan, yakni HOT Tasking Manager, muncul pada saat bencana-bencana sebelumnya. Perangkat itu menyertakan fungsi seperti revisi dan validasi data jaringan jalan raya, identifikasi area perumahan, menemukan ruang terbuka yang dapat digunakan untuk pendaratan helikopter, memetakan tenda-tenda pengungsian, dan banyak lagi.

Citra yang digunakan untuk pemetaan pra bencana diambil dari Bing dan Mapbox. Departemen Humanitarian Information Unit Amerika Serikat juga ikut serta.

dcmapper_0

Melalui email list, IRC, Skype, Media Sosial dan mulut ke mulut, HOT membantu menghubungkan universitas-universitas, lembaga-lembaga bantuan, para mapper, perusahaan-perusahaan dan banyak lagi, yang mengorganisiri “map-a-thon” mereka masing-masing di seluruh penjuru dunia untuk melengkapi OpenStreetMap. Ada banyak contoh untuk hal itu, seperti Palang Merah Amerika dan edukasi pemetaan nonprofit Maptime di Washington, D.C. Kantor Mapbox di Bangalore, Universitas di Jerman dan Brasil, komunitas di Tokyo, dan banyak lagi tempat di seluruh penjuru dunia dimana orang-orang memutuskan untuk melakukan apa yang mereka bisa lakukan lewat pemetaan di OpenStreetMap.

Sejak pengaktifan di Nepal, lebih dari 4.300 mapper telah membuat 86.000 pengeditan pada peta dan menambahkan 30.000 jalan dan 240.000 gedung. Setidaknya 2.900 diantara itu adalah tambahan yang benar-benar baru di OpenStreetMap.

Ini juga berarti ada kebutuhan pelatihan untuk para pengguna baru – ada sejumlah besar situs-situs pelatihan dan video termasuk MapGive  milik Departemen Kemanusiaan Amerika Serikat. Ada pula tutorial yang ada di editor OpenStreetMap itu sendiri, dikembangkan dengan Mapbox. Ada pula website OSM. Para staf HOT telah bekerja keras untuk memastikan para pengguna baru membuat pengeditan yang benar-benar dapat membantu, juga akurat. Ada pula proses validasi data dimana pengguna yang lebih berpengalaman terlibat dan memastikan bahwa peta yang dibuat akurat adanya.

miami_0

Pemetaan pasca gempa, seperti tenda-tenda pengungsian serta area pendaratan helikopter bergantung pada pencitraan satelit. Untuk ini HOT, perusahaan satelit, pemerintah dan PBB bekerja sama untuk mengarahkan satelit mereka guna memperoleh citra pasca-bencana. Upaya ini termasuk yang dilakukan oleh International Disaster Charter, yang merupakan bagian dari  Humanitarian Information Unit Departemen Unit Informasi Kemanusiaan Amerika Serikat, UNOSAT (Lembaga Satelit PBB), CNES (Lembaga Ruang Angkasa Prancis) serta perusahaan-perusahaan seperti Digital Globe dan Airbus DS.

Sayangnya, kabut menghalangi upaya mendapatkan citra yang baik selama beberapa hari – barulah setelah tiga hari setelah gempa satelit-satelit pemerintah dan komersial dapat mengambil dan mendistibusikan citra yang bagus, meskipun di beberapa daerah titik hujan dibuuhkan waktu tambahan beberapa hari lagi.

Respon crowdsourced, dan semua mitra yang terlibat, telah melakukan banyak hal untuk membantu – akan tetapi lebih banyak bantuan tetap dibutuhkan, terutama dengan segera datangnya musim penghujan. Ketesediaan dan akurasi data pemetaan di negara adalah kunci, dan jika anda ingin membantu, anda dapat memeriksa tutorial OpenStreetMap d MapGive dan LearnOSM, membaca blog HOT,  Halaman Wik gempa bumi Nepal serta HOT Tasking Manager.

Pre-mapping dilakukan biasanya dengan citra yang disediakan untuk OSM oleh Bing dan MapBox. Departemen Unit Informasi  Kemanusiaan Amerika Serikat juga menyediakan citra untuk daerah-daerah yang tidak dijangkau oleh sumber dasar kami

[opensource.id]

 

%d bloggers like this: