Sebuah StartUp Gugat Seseorang untuk Rebut Nama Domain yang Sudah Berusia 16 tahun

address-bar

address-bar

Jason Kneen adalah seorang programmer dan memiliki ribuan nama domain yang dikelola selama lebih dari 16 tahun. Salah satu dari nama domain itu adalah workbetter.com,yang dia beli pada tahun 1999 serta digunakannya selama bertahun-tahun. Pada akhir April 2014 lalu, sebuah perusahaan, OfficeLinks, mendekati dirinya guna membeli domain tersebut untuk dipakai sebagai URL bisnis mereka.

screen-shot-2015-07-03-at-1-25-21-pm

Ini dongeng yang umurnya setua internet : seseorang punya ide dan berupaya mendapatkan URL yang tepat. Pemilik nama domain dan startup berupaya mencapai kesepakatan. Kesepakatan kadang-kadang tidak tercapai, dan saat itu terjadi, sebagian besar startup akan kembali merencanakan ulang ide mereka.

Tapi rupanya hal itu tidak berlaku bagi OfficeLink, mereka memilih untuk langsung melibatkan pengacara

Cerita dimulai pada April, 2014 saat co-founder OfficeLinks, Harsh Mehta, mendekati Kneen terkait nama domain workbetter.com.

OfficeLinks adalah bisnis penyewaan ruang kerja yang sedang tumbuh. Mehta baru saja membeli domain WorkBetter.us untuk digunakan pada layanan mereka.

Kneen lalu memberikan penawaran. Mehta mengajukan pembayaran sebesar 500 US$. Pada awalnya Kneen bersedia menjual WorkBetter.Com dengan harga lebih mahal, tapi lalu mempertimbangkan jikalau Mehta bisa saja dengan mudah menjualnya lagi ke klien yang lebih besar.

Mehta menjelaskan bahwa dia hanya tertarik dengan nama domain. Kneen kemudian memberikan pertimbangan ulang, termasuk mengajukan beberapa syarat termasuk adanya pembayaran tambahan jka Mehta ternyata kemudian menjual ulang domain tersebut kepada pihak lain.

Namun pada akhirnya, Kneen memutuskan menolak menjual nama domain tersebut.

Mehta kemudian mendaftarkan merek dagang untuk Work Better pada 25 April tahun 2014, hanya selang beberapa hari setelah Kneen memperpanjang nama domain itu – 16 tahun sudah semenjak kali pertama Kneen mendaftarkan domain tersebut.

Pada akhir Juni 2014, seorang karyawan “yang terlalu bersemangat” – meminjam istilah Mehta – melakukan transfer domain untuk nama domain .com via PairNIC, sebuah layanan nama domain. Upaya itu tentu saja gagal karena membutuhkan persetujuan dari Kneen. Kneen  menggunakan twitter untuk melaporkan masalah tersebut. Interaksi antara Kneen dan Mehta masihlah terjalin baik  Mehta kemudian meminta maaf. Kneen pun kemudian menganggap bahwa masalah sudah selesai.

Setahun kemudian, pada 29 Juni 2015, Kneen menerima telepon dari DomainNameWire, sebuah situs yang didedikasikan untuk berita-berita nama domain. Mereka menyampaikan informasi detail tentang gugatan hukum kepada Kneen terkait cybersquatting – yakni  tindak kejahatan menahan nama domain yang terkait dengan suatu merek dagang. Itulah kali pertama Kneen mendengar tentang gugatan tersebut.

Cybersquatting bukanlah hal yang baru dan memiliki definisi yang jelas. Unified Domain Disupte Resolution Policy menyatakan bahwa mereka yang melakukan klaim cybersquatting harus membuktikan beberapa hal berikut :

  1. Bahwa mereka benar-benar memiliki merek dagang (terdaftar ataupun tidak) yang sama atau serupa dengan nama domain level dua yang didaftarkan.
  2. Pihak yang meregistrasi nama domain tidak memiliki hak legitimasi atau kepentingan pada nama domain tersebut
  3. Nama domain tersebut didaftarkan dan digunakan untuk niat yang buruk.

“Ini adalah sengketa antara perusahaan yang mencoba untuk melindungi merek dagangnya, dan membuat penggunaan asli, dengan sebuah ideologi melibatkan individu (dan bisnis, termasuk Jason Kneen) yang membajak merek dagang yang sudah ada dan prospektif hanya dengan 18 US$ per tahun,”ujar Mehta. Dia meyakini bahwa Kneen memiliki nama domain tersebut secara ilegal.

Mehta dan tim pengacaranya mendaftarkan tuntutan pada Kneen dengan tuduhan cybersquatting di Pengadilan Federal New York, padahal Kneen tinggal di London. Tuntutan itu membawa ke sebuah posting di Domainwire. Dari sanalah Kneen mengetahui kalau dia dituntut. Provider nama domain yang dia gunakan bahkan mengunci nama domain tersebut selama sengketa, sehingga Kneen tidak bisa mengatur manajemen domain tersebut.

“Ini memuakkan”, kata Kneen

Jumat lalu, pengacara Kneen mendaftarkan jawaban atas gugatan tersebut

Sampai di titik ini, pada 3 Juli yang lalu, domain tersebut masih menggantung, karena Kneen menolak untuk menjualnya sementara tuntutan dari Mehta masih menjerat Kneen. Hal yang disayangkan dari kasus ini adalah bahwa kedua belah pihak sebenarnya adalah penduduk Internet, terutama Mehta, adalah bagian dari ekosistem startup.

Meskipun situasi cybersquatting membuat frustasi, tapi ini bukanlah kasus seperti saat seseorang mencoba merampas Sony.Com pada masa-masa awal internet dulu. Kneen memutuskan untuk tidak menjualnya dan Mehta, mendadak, menggunakan sistem legal untuk memastikan bahwa hasilnya menguntungkan pihak mereka sendiri.

“Tanpa merujuk kepada kasus ini secara spesifik, seorang warga yang tinggal di Inggris tidak seharusnya diseret ke Pengadilan Federal New York hanya dikarenakan ada seseorang yang mendekati untuk membeli nama domainnya dan kemudian dijawab ‘tidak, terima kasih'”, demikian pendapat Michael P. Eddy, seorang pengacara hak patenKebanyakan ahli domain di DomainWire sependapat, seraya mengutip sejumlah contoh bullying yang dilakukan oleh perusahaan tertentu yang bersikeras memiliki suatu nama domain.

Pada akhirnya ini hanya akan menjadi pertemuan yang cukup mahal untuk dua pemain kecil. Preseden yang kemudian muncul adalah – startup dapat membullyy seorang pemilik domain. Dan itu adalah preseden yang buruk.

Mehta menolak untuk berkomentar lebih jauh dan sekarang tampaknya para pengacara lah yang akan mencari solusi untuk sengketa yang menyedihkan ini. [opensource.id]

%d bloggers like this: